True. Love. Waits.

Malang

Minggu, 15:42 WIB

Btw, hampir setengah tahun dan akhirnya ada yang muncul juga setelah beberapa kali hanya mampir di draft 😹

Hari ini adalah hari kedua puasa ramadan dan saya sedang mendengarkan Radiohead ditemani hujan. Tetiba saja intro True Love Waits mulai terdengar. Ah, salah satu nomor favorit dari band pujaan. Sepertinya paragraf ini terlalu rima untuk sebuah tulisan di blog ya? Ah, maafkan maafkan.

Sudah banyak sekali (termasuk saya) yang memaknai lagu ini dengan menganggap bahwa Thom Yorke menciptakannya untuk sang kekasih, Rachel Owen. Namun, walaupun lagu ini menceritakan sebuah penantian cinta sejati, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Charlie Thompson, seorang ilmuwan data, mengungkap bahwa True Love Waits merupakan lagu tersedih dari koleksi milik Radiohead [klik di sini].

Saya pun mengalami perasaan serupa setiap mendengarkannya. Sedih, merasa terluka, muncul perasaan tak diterima, dan juga perasaan yang tidak menyenangkan lainnya. Sebuah ironi memang ketika mendengarkan lagu yang membuatmu sedih namun juga merasakan harapan untuk selalu bertahan. True love, waits. Menunggu.

Saya adalah orang yang senang sekali memaknai sebuah lagu dengan diri saya sendiri. Tak terkecuali lagu- lagu milik Radiohead. Walaupun lagu ini jelas lagu milik mendiang Dr. Owen, namun sejak pertama kali mendengarnya saya tahu bahwa ini juga lagu saya. Untuk saya. Harapan saya untuk memaknai hidup, bukan hanya tentang jodoh, tapi juga teman bahkan rezeki.

Cinta sejati akan datang jika seseorang mau menunggu dan siap untuk selalu bertahan. Cinta kepada hidup, kepada apa yang sedang dilakoni hingga saat ini. Dalam hal pekerjaan misalnya. Beberapa kali saya merasakan kesedihan ketika bekerja. Konflik yang muncul dari diri sendiri saja sudah begitu banyak, belum lagi benturan dari luar yang membuat saya ingin menjadi pengangguran saja. Tapi sekarang? Saya sangat mencintainya! Menunggu, memang butuh proses dan mungkin membutuhkan waktu yang lama. Dan untuk mencintai apa yang kamu lakukan, kadang kamu tak perlu mencintai lingkungan yang ada di dalamnya. Hehe.

Just don’t leave…

Don’t leave…

Sebuah harapan tentang cinta. Memasuki usia saya sekarang yang sudah 20-sekian, tidak heran jika banyak sekali kicauan di luar sana yang muncul dan mungkin bagi beberapa orang yang senasib, hal ini akan mereka anggap sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan.

“Kamu kapan nih mau nyusul?” – emang situ mau bayarin resepsinya?

“Loh, gandengannya mana? Kok sendirian aja?” – mau tau aja deh..

“Orang tua kamu udah minta cucu, loh..” – sok tau banget yaelah 😑

“Inget usia, cewe itu kudu udah nikah sebelum umur 30.” – kata sapa anjayyy 😹

Hahaha. Pertanyaan dan pernyataan semacam itu dianggap lumrah kan di sini? Sejauh ini saya masih mampu dan kuat kok menghadapi hal- hal semacam itu, termasuk dari sahabat- sahabat saya sendiri. Padahal sebenarnya, jika salah satu sahabat saya yang melontarkan kalimat itu, saya akan merasa sedih. Hehe. Seharusnya mereka paling tahu bagaimana keadaan saya bukan? Seharusnya mereka paling mengerti perasaan saya bukan? Tapi tak apa, asal mereka selalu ada saat saya sedang sedih dan gelisah, hal itu bukan lagi masalah. Ya begitulah, pencarian cinta sejati, termasuk sahabat dan jodoh memang kadang tak semudah mencari teman yang ada ketika sedang senang saja.

Jodoh bukan hanya tentang saya mencintai seseorang dan orang tersebut juga mencintai saya. Cinta sejati tidak hanya tentang apa yang sedang dilakoni saat ini, tapi juga untuk nanti. Mungkin karena itulah sebuah cinta sejati membutuhkan penantian yang panjang, karena nantinya akan membutuhkan sebuah tanggung jawab besar. Menunggu dan bertahan saja tidak cukup. Masih perlu banyak sekali usaha, doa dan keberanian untuk melakukannya. Jangan pergi, jangan pergi hanya karena merasa lelah. Karena cinta sejati bukan untuk orang yang lemah. Bersyukur untuk apa yang saat ini kita punya, dan berjuang untuk apa yang sedang kita minta.

Bagaimana True Love Waits menggambarkan kesedihan sekaligus harapan dalam satu cerita menunjukkan betapa jeniusnya Radiohead dalam bermusik. Bagaimana Thom Yorke mampu membuat saya menangis tiap kali mendengarkan suaranya adalah karena saya saja yang memang cengeng. Lemah. Rapuh. Hnggg.

Baiklah, ayo segera siapkan tajilnya! Selamat Ramadan! ❤


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s